Antara Salman, Salman, dan Salman

Di suatu hari yang cerah adzan Zuhur dari masjid Salman memanggil para mahasiswa ITB untuk menunaikan shalat. Saya berjalan menuju masjid Salman yang letaknya di Selatan gerbang ITB

Di tengah perjalanan seorang teman menyapa “mau ke mana, Man?”,

Saya jawab “mau ke Salman…”,

“Salman koq ke Salman :D”

yup, selama ini nama Salman khususnya di kalangan civitas akademika ITB identik dengan nama masjid dan kantin,, bahkan di testimonial Saya ada yang menulis: ingat Salman jadi lapar.. ๐Ÿ˜€ *halah.. biasa makan di (kantin) Salman ya?

[bagi yang belum tahu, masjid Salman adalah masjid kampus ITB dan kantin Salman adalah kantin favorit mahasiswa ITB… panjanglah kalau diceritakan…]


ada sebagian orang yang bertanya-tanya, dari mana asal nama ‘Salman’… hmm belum tau ya? Salman itu diambil dari nama salah seorang Sahabat Nabi yang berasal dari Isfahan, sebuah daerah di Persia, beliau adalah Salman Al-Farisi Radhiallahu’anhu.

Salman Al-Farisi adalah seorang pencari kebenaran sejati, beliau lahir di kalangan pejabat Persia yang beragama Majusi yaitu penyembah api. Di suatu kesempatan beliau melihat agama Nasrani yang berbeda dengan agamanya dan tertarik dengannya kemudian dikisahkan beliau mengembara dari satu kota ke kota lain menemui hingga akhirnya bertemu dengan Rasulullah di Madinah dan mengikuti kaum muslimin, setelah Salman Al-Farisi membuktikan ciri-ciri kenabian pada Rasulullah yang sebelumnya diceritakan oleh seorang pendeta yang hanif dari Amuria sebelum ajalnya.


Nama Salman Al-Farisi banyak diceritakan ketika perang Khandaq (perang parit) sebagai seorang arsitek ulung, dimana saat itu beliau mengajukan teknik perang yang dapat dikatakan out of the box dari pemikiran para Sahabat lain ketika itu. Di saat kaum muda memilih menyerang ke luar kota, dan kaum tua memilih berperang dengan bertahan di kota, Salman Al-Farisi mengusulkan sebuah taktik perang: “Gali parit perlindungan sepanjang daerah terbuka di sekeliling kota Madinah”. Pendapat yang brillian ini disetujui oleh Rasulullah dan semua kaum muslimin pun bersama-sama menggali parit untuk menahan laju Quraisy dan para sekutu. Yang dengan pertolongan Allah (saat itu di dalam Madinah sedang terjadi krisis pangan berkepanjangan karena terkepung oleh pasukan Quraisy dan sekutu, kemudian Allah mengirim angin topan memporak-porandakan tenda-tenda para musuh) akhirnya perang khandaq dimenangkan oleh kaum muslimin.


Seru sekali membaca kisah Sahabat Nabi yang satu ini… artikel lengkap tentang kisah Salman Al-Farisi ada di http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&id=36 semoga kisah hidup beliau bisa kita jadikan pelajaran.


ps: selain nama masjid kampus Saya, nama TK dan SD Saya (kelas 1) juga Salman Al-Farisi yang ada di Tubagus Ismail, daerah Dago. Tapi dulu mah bukan di tempatnya yang sekarang tapi di tempat yang sekarang jadi Pesantren Miftahul Khoir. Saya sedikit ingat dulu daerah sana hijau-hijau, banyak kolam yang luas, ada air terjun di belakangnya -pokoknya indah lah, tapi kalau sekarang ke daerah itu sudah tidak seperti dulu lagi,,,dah banyak bangunan…

Iklan

5 thoughts on “Antara Salman, Salman, dan Salman

  1. Assalaamualaikum.. Salman ya? anak Pustena yg dulu pernah ikutan SBT Salman? (sy panitia soalnya…)
    Trm ksh sdh mau komen.. sering-sering main ke Blog saya ya ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s