Iseng2 Sekalian Nulis Buku..


Sebenernya udah sejak setahun yang lalu punya keinginan buat nulis buku tentang Flash, cuman sampai sekarang keinginan itu masih tetep aja berupa “keinginan”… hehehe 😀 nulis blog juga dulunya ingin nulis artikel2 Flash (liat aja kategori/tag apa yg paling banyak) sampai nanti kalau udah banyak dikumpul dan…jreng3x…jadilah buku. 8) Alhamdulillah sampai sekarang setidaknya sudah menyusun kerangka tulisan (eh? baru kerangka? 😳 ), ditambah belasan artikel jadi yang mudah2an bisa dikembangin, Judulnya nanti mungkin “kreasi media interaktif dengan Flash” (atau apalah, bagusnya apa yak?), dan hebatnya lagi biarpun belum ada isinya tapi udah ada desain covernya lho.. hehehe (nggak penting). [Image]

Iklan

Cara Praktis Sharing Koneksi Internet dari Laptop ke Laptop atau Komputer PC


Bingung juga mau nulis apa lagi di Blog, inginnya sih diisi postingan serius gitu lah.. eh yang jadi malah setengah iseng (berarti setengah serius dong hehehe). Isi tulisan kali ini ya sesuai dengan judulnya, biarpun mungkin rada cupu, tapi kadang ini suka berguna. Mari kita simak kisah dua sahabat ‘Faisal dan Salman’ di bawah ini…

Skenario 1:
“Camera roll..”
“Action!”
Suatu hari yang cerah ditemani kicauan burung nan merdu.. semilir angin berhembus, terdengar sayup-sayup suara…………..jreng3x (gak penting wooii.. prolognya kepanjangan pula..)
jadi ceritanya si Faisal ini sedang ngenet dengan nyolokin kabel LAN dari switch ke laptopnya, lalu tiba-tiba aja dateng sobatnya si Salman bawa laptop pula, rencananya mau ikutan ngenet, tapi… alangkah kuciwanya Salman tatkala mengetahui gak ada kabel lagi buat nyolok.. kebetulan Faisal emang anak baik (lebai ah), dia sharing koneksi internetnya ke sobatnya itu, caranya yaitu dengan menshare koneksi LAN dia ke koneksi Wirelessnya. (Control Panel>Network Connections>klik kanan Local Area Connection>properties>pilih tab advanced>centang opsi Internet Connection Sharing>pilih Wireless Network Connection di tujuan sharing).

Kemudian dengan sabarnya dia membuat koneksi wireless adhoc dari Laptopnya ke Laptop Salman (Wireless Connection>setup new wireless network>buat koneksi Ad Hoc dengan enkripsi WPA atau WEP) dan mensetting IP address Laptop Salman (Control Panel>Network Connections>klik kanan network adapter yg mau diubah IPnya>klik properties>di tab general pilih Internet Protocol>klik properties) se-subnet dengan IP address dari Wirelessnya Faisal (setting default di Windows biasanya 192.168.0.1)

Skenario pertama ini bisa digambarkan sebagai berikut:

Singkat kata, akhirnya mereka pun bisa ngenet bersama-sama, selamanya.. selamanya.. (>_> apaan seh)

Skenario 2:
Pokoknya cerita dan latarnya hampir sama (maksa bgt dah), cuman bedanya kali ini Faisal konek ke Internetnya pakek WiFi (oh ya saya belum cerita ya kalau disitu itu baru aja ada hotspot) dan kebetulan kali ini laptop cupunya Salman gak bisa konek (entah karena koneksinya dipassword atau emang di Laptopnya adapter networknya cuman Ethernet doang, ini gak diceritain sama sutradaranya, bahkan konon si pembuat naskah ceritanya pun bingung… haha) kemudian, Faisal yang emang anak baik, dia sharing koneksi internetnya ke sobatnya itu. Nah caranya yaitu dengan nyambungin kabel LAN tipe cross dari Laptopnya ke Laptop Salman dengan terlebih dahulu mengassign IP address se-subnet pada keduanya (semua caranya sama dengan skenario sebelumnya, hanya beda network adapter yg diubahnya aja).
Kalau mau digambarin mungkin kek gini lah bentuknya:

Eh bentar ada yang ketinggalan: IP DNS yg diisi di Salman samain dengan IP DNS yg diisi di Faisal. Untuk troubleshootingnya coba cek ipconfig /all terus cobain ping sana sini nyambung gak.. at last, happy ending \(^o^)/
.
.
.
.
.
…postingan aneh (O_o)?

Menyusuri Jejak Islam di Andalusia


“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?, Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.”

Kalimat tersebut diucapkan setelah kapal yang digunakan menyeberangi selat, sehingga satu-satunya pilihan bagi 7000 pasukan Islam saat itu hanyalah menghadapi 100.000 pasukan Visigoth guna menaklukkan negeri Andalusia, atau syahid disana. Pidato terkenal ini dikobarkan oleh seorang panglima perang yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah penyebaran Islam: Thariq bin Ziyad.

Thariq bin Ziyad
Nama lengkapnya adalah Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau. Beliau merupakan putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri. Beliau adalah salah seorang Panglima Perang Islam pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik atau al-Walid I (705-715 M) dari bani Umayah.

Pada bulan Rajab 97 H atau Juli 711 M, beliau mendapat perintah dari Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusair untuk mengadakan penyerangan ke semenanjung Andalusia (Semenanjung Iberia yang sekarang meliputi negara Spanyol dan Portugis). Bersama 7.000 pasukan yang dipimpinnya, Thariq bin Ziyad menyeberangi selat Gibraltar (berasal dari kata “Jabal Thariq” yang berarti “Gunung Thariq”) menuju Andalusia.

Setelah armada tempur lautnya mendarat di pantai karang, beliau berdiri di atas bukit karang dan berpidato. Beliau memerintahkan anak buahnya untuk membakar kapal-kapal yang membawa seluruh awak pasukannya. Kecuali kapal-kapal kecil yang diminta pulang untuk meminta bantuan kepada khalifah[citation needed, lihat footnote]. Beliau mengatakan, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa (syahid).”

Karuan saja pidato ini membakar semangat jihad pasukannya. Mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur pasukan kerajaan Visigoth, Spanyol, di bawah pimpinan Raja Roderick. Atas pertolongan Allah swt, 100.000 pasukan Raja Roderick tumbang di tangan pasukan muslim. Raja Roderick pun menemui ajal di medan pertempuran ini.

Dimulainya penyebaran Islam di Eropa Barat
Dalam kitab Tarikh al-Andalus, disebutkan bahwa sebelum meraih keberhasilan ini, Thariq telah mendapatkan firasat bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah saw bersama keempat khulafa’ al-rasyidin berjalan di atas air hingga menjumpainya, lalu Rasulullah saw. memberi tahukan kabar gembira bahwa ia akan berhasil menaklukkan Andalusia. Kemudian Rasulullah saw. menyuruhnya untuk selalu bersama kaum muslimin dan menepati janji.

Setelah meraih kemenangan ini, Thariq menulis surat ke Musa, mempersembahkan kemenangan kaum muslimin ini. Dalam suratnya itu ia menulis:

“Saya telah menjalankan perintah anda. Allah telah memudahkan kami memasuki negeri Andalusia.”

Setahun kemudian, Musa bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Sejak saat itu, satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduduki tentara Thariq dan Musa; Toledo, Elvira, Granada, Cordoba dan Malaga. Lalu dilanjutkan Zaragoza, Aragon, Leon, Asturia, dan Galicia. Dan penyebaran Islam ke Eropa pun dimulai dari Andalusia.

Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu mereka bergerak menuju wilayah Pyrenies, Perancis. Hanya dalam waktu 2 tahun, seluruh daratan Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian Portugis mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb (Barat).

Sungguh itu keberhasilan yang luar biasa. Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad berencana membawa pasukannya terus ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa. Sebab, waktu itu tidak ada kekuatan dari mana pun yang bisa menghadap mereka. Namun, niat itu tidak tereaslisasi karena Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus. Thariq pulang terlebih dahulu sementara Musa bin Nusair menyusun pemerintahan baru di Spanyol.

Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad ditakdirkan Allah swt. tidak kembali ke Eropa. Ia sakit dan menghembuskan nafas. Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai putra asli Afrika Utara muslim yang menaklukkan daratan Eropa.

Wilayah Al-Andalus (abad 7 hingga 10)

Sejarawan Barat beraliran konservatif, W. Montgomery Watt dalam bukunya Sejarah Islam di Spanyol, mencoba meluruskan persepsi keliru para orientalis Barat yang menilai umat Islam sebagai yang suka berperang. Menurutnya,

“Mereka (para orientalis) umumnya mengalami mispersepsi dalam memahami jihad umat Islam. Seolah-olah seorang muslim hanya memberi dua tawaran bagi musuhnya, yaitu antara Islam dan pedang. Padahal, bagi pemeluk agama lain, termasuk ahli kitab, mereka bisa saja tidak masuk Islam meski tetap dilindungi oleh suatu pemerintahan Islam.”

Peperangan dalam Islam adalah untuk menghidupkan manusia bukan untuk memusnahkan. Itu sebabnya, ketika kaum muslimin menang perang dan menguasai wilayah tidak bertujuan menjajahnya. Berbeda dengan ideologi Kapitalisme yang memang tujuan mereka berperang adalah untuk menguasai wilayah dan menjajahnya (baca: menguras seluruh potensi wilayah itu untuk kepentingan bangsanya).

Merah tua: Ekspansi wilayah Islam di zaman Rasulullah, 622-632
Merah muda: Ekspansi wilayah Islam di zaman Khulafaur Rasyidin, 632-661
Oranye: Ekspansi wilayah Islam di zaman Kekhilafahan Bani Umayyah, 661-750

Sejarah Andalusia

Al-Andalus, was the Arabic name given to those parts of the Iberian Peninsula governed by Muslims, or Moors, at various times in the period between 711 and 1492. (Wikipedia)

I. Periode Kekuasaan Bani Umayyah Damaskus (711-755)
Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus.

Wilayah Kekhalifahan Bani Umayyah

Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.

Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol. Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan.

Perbedaan pandangan politik juga menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama, antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Konflik perang saudara diantara berbagai kelompok Muslim di Iberia itu berakibat hilangnya kendali kekhalifahan di wilayah itu, hingga Yusuf Al-Fihri memenangkan perseteruan itu dan menjadi pemimpin independen di wilayah Andalusia.

II. Periode Kerajaan Cordoba (756-1013)
Di tahun 750, kekuasaan khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Lanjutkan membaca “Menyusuri Jejak Islam di Andalusia”