Mikroprosesor dan Mikrokontroler, Apa Bedanya?


Sebagai mahasiswa telat lulus (parah pisan oi) di semester ini saya masih ngambil kuliah loh (ehh kalakah sombong geura :evil:), dan karena persyaratan kelulusan harus mengambil minimal 5 dari 9 mata kuliah breadth, maka mau-tidak-mau saya harus mengambil mata kuliah yang bernama SISMIK (yah dibandingkan Sisken, Elka2, pilih mana hayo.. ;p).

Sekarang mari kita sedikit bahas topik pertama dari buku pegangan kuliah ini  (The 8051, Ayala) yaitu mengenai perbedaan microprocessor dan microcontroller. Dimana keduanya berasal dari ide dasar yang sama, diproduksi oleh perusahaan manufaktur yang sama, dijual kepada system designer dan programmer yang sama, dan  istilah yang sama-sama ditujukan pada IC. Jadi apa yang membedakan keduanya sehingga kita dapat mengatakan dengan yakin bahwa yg ini termasuk mikroprosesor sedangkan yg ini termasuk mikrokontroler? Lanjutkan membaca “Mikroprosesor dan Mikrokontroler, Apa Bedanya?”

Iklan

Ketika Salman al-Farisi Melamar Wanita Anshar


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.

Sumber: Salim A Fillah. Jalan Cinta Para Pejuang. 2008. Yogyakarta: Pro-U Media.

Trik Download Halaman dari Google Books


Koleksi buku online yang ada di http://books.google.com mungkin terbilang lengkap, banyak buku-buku textbook tidak hanya tersedia deskripsinya saja tapi juga bisa dibaca gratis lewat situs ini (meski tidak semua halaman bisa dilihat, karena kebanyakan preview halamannya terbatas). Namun sayang konten bukunya tadi tidak akan ikut ke-save jika halaman webnya disave. Terus gimana cara ngesave/ngunduh isinya?

Sederhana saja ternyata caranya..

Requirement yang perlu diinstall:
Mozilla Firefox, sebagai browser yang digunakan untuk membuka halaman
– addon Firefox: Greasemonkey, untuk menjalankan script downloadernya
Google Book Downloader, script untuk download buku yang berjalan dengan greasemonkey
– addon Firefox: FlashGot, memudahkan multiple selection untuk download
FlashGet (optional), sebagai download manager
– Renamer (atau yang semacamnya), untuk mengubah nama2 file dan ekstensinya sekaligus dalam jumlah banyak (sesuai jumlah halaman yang didownload)

Langkah-langkahnya:
– Pastikan semua persyaratan di atas sudah terinstall
– Buka sebuah halaman googlebook, scroll ke bawah sampai beberapa halaman
– Klik tombol bertuliskan “download now” yang ada di samping, script akan men-generate halaman
– Setelah script selesai, seleksi semua halaman yang muncul kemudian klik kanan > ‘FlashGet’ atau Browser built-in (kalau gak nginstall flashget)
– Setelah proses download selesai, ubah ekstensi semua file menjadi .PNG dengan Renamer

Trik ini saya dapatkan dari http://book.huhiho.com/, setelah melakukan googling sebentar lewat http://www.google.com 😀

Tidak semua buku bisa didownload secara full (dapet semua halamannya) ini hanya bisa didapatkan jika buku-buku tersebut status tampilannya utuh, sedangkan untuk buku2 yang pratinjaunya terbatas hanya halaman-halaman tertentu yang bisa dilihat previewnya saja yang bisa didownload.. hmm sayang sekali 😦 mungkin ada yang sudah menemukan trik download full untuk buku2 yang berstatus pratinjau terbatas? silakan share disini..